Menggali Nilai Nilai Moderasi Beragama dan Kebangsaan Melalui Situs Rimba

Desa Lawang Agung, Sindang Beliti Ulu, Rejang Lebong_

Sumber Informasi: Juru Kunci Juhadi Sambal Duo dan Ilmi Arles (Anak Rejang Lubuk Selatan)_

Kerajaan Sriwijaya ada keberadaannya dari berbagai situs yang ditemukan, di daerah Palembang, Jambi, Bengkulu atau di daerah lainnya yang sekarang bukti bukti sejarah masih belum ditemukan_

Depunta Hyang adalah salah satu pemimpin atau Raja Sriwijaya yang memiliki sikap luhur, yang di dalam jiwanya ada nilai nilai Moderat yang di tanamkan bagi rakyatnya hingga ke daerah kekuasaan Sriwijaya_

Salah satu kisah dan bukti Menhir Situs Rimba yang di ditemukan di Daerah Lawang Agung menyebutkan secara pemaknaan simbol simbol yang ada di situs Rimba, yang menurut Juru Kunci Lawang Agung, Bapak Juhadi Sambal Duo, simbol Simbol itu adalah bukti keberadaan Kerajaan Sriwijaya dengan nilai nilai keluhuran nya_

Kisah itu adalah Kisah utusan dari Kerajaan Sriwijaya yang bernama Puyan Remeyon yang di Tugas kan untuk melakukan tigas “mengambil kepala” dari Rie Tandan yang juga dari Kerajaan Sriwijaya, tetapi ketika terjadi adu tanding sakti mandra guna, kedua kesatria tersebut tidak sedikit pun merusak keberadaan alam, perilakunya kesatria yang bijaksana, hingga akhirnya Rie Tandan berhasil mengalahkan Puyan Remeyon dan Puyan Remeyon tidak di bunuh, tetapi diangkat menjadi anak oleh Rie Tandan_

Rie Tandan sebagai kesatria yang memimpin daerah Kute Giri yang merupakan daerah Lawang Agung bersikap bijaksana kepada rakyatnya, dengan sikap Simbol melati atau Melayu Tinggi ; sikap yang agung, mulia, suci dan bersahaja kepada sesama. Kemudian simbol pucuk rebung berbentuk segitiga yang mana makna setiap sisinya adalah spritual (meyakini kekuasaan yang Maha Kuasa dari Tuhan) adanya sikap tauhid,_

Sisi emosional yaitu mampu menjaga keseimbangan diri dari perasaan yang berlebihan dan tidak berdasarkan pemikiran akal sehat dan sisi selanjutnya adalah ilmu pengetahuan, Rie Tandan membangun daerah Kute Giri Lawang Agung dengan dasar ilmu pengetahuan dari alam semesta dari Tuhan yang Maha Kuasa untuk menjaga dan melestarikan alam semesta_

Simbol Cakra satu yaitu Kekuatan fisik menjadi manusia atau insan harus kuat dan sehat secara fisik, secara tauhid Tuhan yang Maha Kuasa menyukai hamba hamba yang sehat dan kuat sehingga lebih mampu menyampaikan kebenaran dan kebijaksanaan, Cakra dua yaitu Kekuatan Batiniah Kekuatan spritual untuk tetap kembali kepada Tuhan yang Maha Kuasa, menjadi abdi, menjadi hamba yang selalu beribadah dan memohon kepada yang Maha Memiliki dunia dan segala isinya_

Kemudian pucuk rebung berbaris dua adalah fase perkembangan hidup manusia seperti bambu, bahwa bambu adalah tanaman yang sangat berguna bagi manusia, tidak ada satupun dari Bambi yang tidak bermanfaat, seperti inilah seharusnya manusia, hingga ketika bambu mati tetap meninggalkan bunganya untuk generasi yang baik dan nama yang mulia_

Hingga pada puncaknya adalah Simbol Kesatria yang berdiri di atas kuda, adalah kesatria yang sudah menjalankan makna kehidupan dengan baik dan bermanfaat sehingga bisa berdiri di atas kuda tidak hanya kekuatan lahiriah tetapi batiniah. Hal ini menurut pemahaman yang sederhana dari kami adalah nilai nilai dari Insan yang moderat yang telah di tunjukkan di buktikan oleh keberadaan Sriwijaya di Tanah Rejang yaitu nilai : Ketuhanan, Keagungan, Kesucian, Kemuliaan, Kebermanfaatan, Keberanian, Kemampuan Pengetahuan, Berbudi Luhur, Cinta Alam Semesta dan Cinta Tanah Air Kebangsaan seperti yang dilakukan Kesatria Dari Kerajaan Sriwijaya_

Berlanjut_

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *